Thursday, December 1, 2016

Masjid Al Fataa dan �??Demo 411�??

Masjid Al Fataa dan �??Demo 411�??

Masjid Al Fataa dan �??Demo 411�??

Seorang pengunjuk rasa pada aksi 4 November berlari menjauhi kobaran api di lokasi demonstrasi, Jakarta (4/11).

Seorang pengunjuk rasa pada aksi 4 November berlari menjauhi kobaran api di lokasi demonstrasi, Jakarta (4/11). © Mast Irham /EPA

Pencokokan sembilan orang yang dicurigai sebagai teroris pada pekan lalu kembali mengapungkan nama Al Fataa.


Masjid di bilangan Menteng Raya itu sempat diwartakan oleh kantor berita ABC pada Februari sebagai salah satu lokasi mengaji para simpatisan kelompok garis keras ISIS.


Sembilan orang yang baru saja dibekuk tersebut kemungkinan tidak berkaitan dengan laporan ABC. Namun, keberadaan mereka di masjid dimaksud beririsan dengan isu yang disorongkan oleh media Australia itu.


Sinyalir digaungkan oleh Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kadiv Humas Polri), Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, ketika berbicara mengenai keterhubungan para tercokok dengan demonstrasi 4 November di Jakarta.


Dalam berita yang ditulis CNNIndonesia.com (28/11), Boy mengatakan seluruh tangkapan adalah bagian dari kelompok Abu Nusaibah yang pernah menyatakan kesetiaan kepada ISIS.


Orang-orang itu berupaya memancing di air keruh pada aksi unjuk rasa yang dilabeli ‘demo 411’. Namun, pihak kepolisian belum mendeteksi hubungan mereka dengan kelompok demonstran.


“Pimpinannya, Abu Nusaibah, membagi dua kelompoknya. Ada yang bergerak ke Penjaringan, ada yang merapat ke DPR,” kata Boy.


Menurut sang Kadiv, Abu Nusaibah pada Jumat malam (4/11)–setelah pecah bentrokan antara massa tertentu dengan petugas keamanan di dekat Istana Negara–memerintahkan Wandi Sopandi alias Abu Usama untuk mengumpulkan kelompok Kafilah Syuhada (Al Hawariyyun) di Al Fataa.


Kelompok itu terbagi dua, di halaman dan bagian dalam masjid. Mereka yang di luar: Dimas Adi Saputra, Wahyu Widada, Zubair, Reno Suhartono, dan sejumlah anggota Al Hawariyyun lainnya.


Saat mereka berhimpun pada pukul 20.00 WIB itu, ujar Boy, Abu Nusaibah, Syamsudin Uba, dan Ibnu Aji Maulana berada di dalam masjid.


Syamsudin Uba pernah menyangkal pemberitaan ABC mengenai isu rekrutmen kader ISIS di Jakarta. Menurutnya, pengajian yang ia ampu di Al Fataa tidak berafiliasi dengan ISIS, tapi berfokus pada kekhilafahan.


Pada 20.30 WIB, Abu Nusaibah, masih menurut Boy, mendatangi Wandi Sopandi di halaman masjid dan memintanya untuk membagi kelompok menjadi dua.


“Kelompok satu dipimpin oleh Abu Fatir untuk bergerak ke Penjaringan (Jakarta Utara), karena sudah terjadi rusuh di Penjaringan. Kelompok dua dipimpin oleh Abu Nusaibah untuk bergerak bergabung dengan massa di DPR,” ujar Boy.


Tujuan mereka, berhadapan langsung dengan para petugas keamanan, dan kemudian merebut senjata api dari tangan para petugas.


Menurut Boy, kelompok Penjaringan bercerai dari massa. Mereka menyusup ke barisan belakang polisi untuk menguji kelengahan aparat.


“Tapi karena saat itu bentrok sudah berhasil dikendalikan oleh aparat kemanan, akhirnya kelompok satu pimpinan Abu Fatir di Penjaringan bergerak menuju ke DPR untuk bergabung bersama massa di sana,” kata Boy.


Kelompok ini, kata Boy, tidak mengikuti aksi demonstrasi sejak siang. Mereka hanya bergabung dengan massa aksi apabila terjadi kericuhan dan memanfaatkan situasi itu.


Sejumlah individu yang berkumpul di Al Fataa tidak turut aksi protes pada siang 4 November. “Mereka akan memanfaatkan jika situasi rusuh saja,” ujar Boy.


Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius ikut berkomentar mengenai upaya pendomplengan kelompok garis keras dalam aksi masyarakat sipil di tanah air.


“Posisi mereka memang saat ini sudah berada di beberapa titik. Mereka sedang menunggu momentum yang tepat,” ujarnya dikutip Warta Kota (28/11).


Dalam hemat Suhardi, sebagian besar anggota kelompok radikal yang ditengarai akan turun pada 2 Desember mendatang adalah sekumpulan mantan narapidana terorisme yang kembali lagi pada lingkungan yang salah.


Adapun, sembilan orang yang dibekuk polisi adalah: Saulihun alias Abu Nusaibah alias Abu Hilyah alias Abu Husnia alias Abu Faqih alias Abu Islam alias Abu Hasan alias Abu Iksan alias Pak Slamet; Alwandi Supandi alias Abu Usama alias Aseng alias Sabeni; Reno Suharsono alias Kholid alias Jack alias Alex; Wahyu Widada; Dimas Adi Saputra alias Ali; Ibnu Aji Maulana alias Ibnu alias Indra; Fuad alias Abu Ibrohim; Zubaidar dan Agus Setyawan alias Agus alias Andi Syahputra.


Demonstrasi yang berlangsung pada 4 November yang mereka sasar menyuarakan tuntutan agar Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok diadili.


Menurut para pemrotes, calon Gubernur DKI Jakarta (petahana) itu telah menghina Al Quran dan para ulama ketika menyinggung salah satu ayat surat Al Maidah.


Demonstrasi digelar usai salat Jumat, serta berjalan tertib dan damai hingga sore. Namun, setelah malam tiba, tunas kerusuhan mulai nampak.


Mobil aparat kepolisian dibakar. Gas air mata pun ditembakkan oleh polisi. Kericuhan pun jadi nyata.


Ahok sendiri ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama pada 16 November.

informasi informasi

0 comments:

Post a Comment