Thursday, December 1, 2016

Pengalaman spiritual senikmat hubungan seksual

Pengalaman spiritual senikmat hubungan seksual

Pengalaman spiritual senikmat hubungan seksual

Ilustrasi religius. Ilustrasi religius. © PHOTOCREO Michal Bednarek /Shutterstock

Sains menemukan bahwa bagi orang religius, pengalaman spiritual ternyata mengundang “kenikmatan” tersendiri. Sebuah penelitian menunjukkan, momen pencerahan spiritual berlaku serupa seperti saat jatuh cinta, hubungan seksual, mendengarkan musik, bahkan mengonsumsi narkoba.

Penelitian oleh University of Utah ini merupakan bagian dari misi bernama Religious Brain Project, yang diluncurkan sejak dua tahun silam. Misi ini berharap dapat mempelajari bagaimana otak bekerja pada orang-orang yang sangat religius. Apa sebenarnya yang terjadi pada sistem saraf otak saat seseorang mengalami spriritualitas?

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Social Neuroscience, pada 29 November 2016, ini mencari jawabannya melalui aktivitas neurologis. Para periset menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk memindai otak subjek penelitian. Mereka yang terpilih adalah 19 pengikut Mormon, 7 perempuan dan 12 lelaki, semuanya mantan misionaris.

Mormon adalah sebutan bagi pengikut aliran Latter Day Saint, atau dikenal dengan Gerakan orang suci zaman akhir. Poligami adalah salah satu unsur yang pernah diasosiasikan dengan aliran Mormon. Salah satu peneliti, Jeff Anderson, dibesarkan dalam aliran Mormon, namun telah meninggalkannya satu dekade lalu.

Para periset University of Utah itu menemukan bahwa momen pencerahan spiritual, dikoordinasikan oleh sirkuit otak yang sama dengan saat seseorang jatuh cinta, bersetubuh, mendengarkan musik, bahkan mengonsumsi narkoba.

“Pengalaman religius mungkin adalah hal paling berpengaruh terhadap cara orang membuat keputusan yang berdampak pada kita semua, baik untuk kebaikan maupun keburukan. Memahami apa yang terjadi di dalam otak hingga berkontribusi pada keputusan-keputusan tersebut adalah hal yang sangat penting,” papar Jeff Anderson.

Dalam eksperimen subjek diminta beristirahat 6 menit, menonton pengumuman gereja 6 menit, membaca kutipan pemimpin agama 8 menit, berdoa enam menit, membaca skriptur 8 menit, dan menonton video pembicara religi, dan testimoni jemaat gereja. Selama aktivitas itu, mereka diminta mengindikasikan kapan pencerahan spiritual terjadi.

Pertanyaan “Apakah Anda merasakan pencerahan (spirit)?” diajukan kepada responden. Mereka kemudian diminta memilih jawaban, dari “tidak merasakannya” hingga “sangat terasa.” Pertanyaan ini mencoba menangkap seberapa besar kedamaian dan kedekatan dengan Tuhan yang dirasakan responden. Banyak di antaranya sampai meneteskan air mata.

Dalam laporan penelitian disebutkan, momen pengalaman religius yang intens cenderung dikarakterisasikan oleh aktivasi kuat pada bagian otak yang disebut nucleus accumbens. Sebagai bagian dari “sirkuit pahala”, area inilah yang banyak berperan dalam menimbulkan rasa nikmat, sebagai respons terhadap stimuli seperti seks, musik, makanan, atau narkoba.

Para penulis riset juga menemukan aktivasi medial prefrontal cortex yang dilibatkan dalam fungsi kognitif lebih tinggi, seperti saat membuat keputusan atau mencari alasan. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman religius sebagian dihasilkan oleh penilaian secara sadar dan atribusi terhadap rangsangan religius.

Munculnya sensasi “nikmat” ini bila terjadi berulang prosesnya mirip dengan efek ketagihan. Pada kasus penggunaan narkoba, “sirkuit pahala” pada otak–yang mengatur kemampuan manusia merasakan kenikmatan–diaktifkan lewat terpaan dopamine. Zat kimiawi di otak ini ditangkap bagian tertentu untuk mengatur rasa senang dalam sirkuit.

Setiap kali mendapat kiriman dopamine, otak otomatis mengatur jumlah yang bisa ditangkap dengan mengurangi penyerapnya. Akibatnya, pengguna harus mengonsumsi lebih banyak narkoba untuk mendapatkan sensasi rasa nikmat yang sama. Inilah efek ketagihan yang muncul.

Adapun penelitian Anderson dan timnya ini bukan yang pertama mengulik alasan ilmiah di balik religiusitas seseorang. Dr. Andrew Newberg sudah memulainya 10 tahun silam, bahkan menelurkan bidang baru yang disebut neurotheology.

Menurut Newberg, hasil riset terbaru Anderson dkk. mendukung risetnya yang mengasosiasikan pengalaman spiritual dan religiusitas dengan jaringan saraf yang kompleks.

“Hal ini menguatkan penelitian kami sebelumnya terhadap berbagai praktik doa dan meditasi yang mendapati adanya perubahan di area atensi otak dan juga striatum,” jelas penulis buku Why God Won’t Go Away itu. Striatum adalah bagian dari sirkuit pahala.

Meski begitu, para penulis riset mengingatkan agar tidak menarik terlalu banyak kesimpulan dari penelitian ini. Kata mereka, riset ini hanya melihat pengalaman religi kaum Mormon. Boleh jadi hasilnya berbeda pada kelompok lain.

informasi informasi

0 comments:

Post a Comment